Sabtu, 27 Agustus 2011

Tedong Toraya

Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Mayoritas suku Toraja memeluk agama Kristen, sementara sebagian menganut Islam dan kepercayaan animisme yang dikenal sebagai Aluk To Dolo. Pemerintah Indonesia telah mengakui kepercayaan ini sebagai bagian dari Agama Hindu Dharma.
Kata toraja berasal dari bahasa Bugis, to riaja, yang berarti "orang yang berdiam di negeri atas". Pemerintah kolonial Belanda menamai suku ini Toraja pada tahun 1909. Suku Toraja terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat Tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman Toraja merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari. Akan tetapi ada satu hal yang memegang peranan yang cukup penting dalam adat istiadat masyarakat suku Toraja yakni Kerbau.
Kerbau adalah binatang paling penting bagi orang Toraja, salah satu etnis yang berada di Pulau Sulawesi, Indonesia. Bagi etnis Toraja, kerbau adalah binatang yang paling penting dalam kehidupan sosial mereka. Kerbau atau dalam bahasa setempat tedong tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Selain sebagai hewan untuk memenuhi kebutuhan hidup sosial, ritual maupun kepercayaan tradisional, kerbau juga menjadi alat takaran status sosial, dan alat transaksi. Dari sisi sosial, kerbau merupakan harta yang bernilai tinggi bagi pemiliknya. Tidak mengherankan bila orang Toraja sangat dengan kerbau mereka. Hal ini dapat dilihat dari percakapan sehari-hari, pada saat hendak bertransaksi, mengadakan pesta, dalam menjalankan ibadah keagamaan.
Sehingga dengan adanya Kerbau sebagai perlambang Status Sosial masyarakat Toraja menjadikan nilai jual dari Kerbau ini cukup Fenomenal di Toraja, hal ini terlihat dalam upacara adat (orang meninggal) di Toraja, kerbau tersebut disembeli untuk mengantar mayat ke sorga. Biasanya, sekitar 10 hingga 100 kerbau disembelih dalam upacara adat tersebut.
Berikut beberapa kerbau yang mempunyai nilai jual yang sangat tinggi :
  • Tedong Saleko (Kerbau belang), Merupakan jenis Kerbau yang memiliki nilai status sosial yang sangat tinggi hingga nilai jual dari Tedong Saleko ini bisa mencapai Rp. 450 Juta per ekor 
TEDONG SALEKO
  • Tedong Bonga, menduduki peringkat kedua setelah Tedong Saleko, dan memiliki nilai jual yang hampir sama dengan Tedong Saleko. 

TEDONG BONGA
  • Tedong Pudu' umumnya berbadan kekar dan warna hitam. Kerbau jenis ini sangat kuat dalam bertarung. Pada acara adu kerbau pada pesta kematian, kerbau pudu umumnya tampil sebagai petarung yang kuat. harga jualnya sekitar Rp.40 juta sampai dengan Rp. 100 juta.
 
TEDONG PUDU'
    • Tedong Sokko, kerbau ini memiliki tanduk yang arahnya turun ke bawah dan hampir bertemu di bawah leher. Dengan warna tertentu nilainya menjadi sangat mahal. 

    TEDONG SOKKO

    • Tedong lotong boko, kerbau ini memiliki ciri ciri warnanya kulitnya putih tetapi di pundaknya terdapat warna hitam, kerbau jenis ini sangat langkah di Toraja, dan harganya pun tidak kalah dengan Tedong Saleko.  
    TEDONG LOTONG BOKO
    • Tedong bulan, Kerbau ini keseluruhan kulitnya berwarna putih, menurut legenda setempat jika seluruh tubuhnya berwarna putih (termasuk matanya) maka kerbau ini tidak akan bisa hidup biasanya akan langsung mati saat dilahirkan.
    TEDONG BULAN
    Dan masih banyak lagi jenis kerbau yang sangat dihargai dan dihormati oleh masyarakat Toraja, dan tentu juga kerbau tersebut memiliki nilai jual yang tinggi di banding dengan kerbau biasa.
     

    Rabu, 24 Agustus 2011

    “Ma`Tundan” (Membangunkan Arwah)


    Bagi suku Toraja, “Rambu Solo” adalah upacara untuk memakamkan leluhur atau orang tua tercinta. Tradisi leluhur ini sekaligus menjadi perekat kekerabatan masyarakat Toraja terhadap tanah kelahiran nenek moyang mereka.
    Suatu malam di dataran tinggi Tanah Toraja. Saat itu, malam kian larut ketika sang bulan memancarkan pantulan cahayanya. Di sekeliling halaman Tongkonan atau rumah adat Tana Toraja terlihat sanak saudara dan para keluarga berkumpul menandai dimulainya pembukaan ritual pemakaman adat Toraja. Suasana pun menjadi sakral ketika mereka bersama-sama melantunkan syair kesedihan dalam tarian Mabadong. Tarian ini menyimbolkan ratapan kesedihan mengingat jasa mendiang semasa hidupnya serta sebagai ungkapan dukacita bagi orang-orang yang ditinggalkannya.
    Tana Toraja di Sulawesi Selatan adalah daerah yang indah. Wilayah kabupaten ini didominasi dataran tinggi. Hamparan pegunungan dan perbukitan pun seolah menjadi saksi bisu asal muasal kehidupan manusia di sana. Di kaki pegunungan Kandora, misalnya beragam kisah dan legenda mengiringi munculnya masyarakat Toraja.
    Syahdan sekitar 15 abad yang lalu, sekumpulan imigran dari Teluk Tongkin, daratan Tiongkok, berlabuh di kawasan pegunungan sebelah barat Sulawesi Selatan. Para imigran asal Tiongkok ini akhirnya memilih menetap dan membaur dengan penduduk asli di pedalaman. Akulturasi atau percampuran budaya mereka inilah yang kemudian sering disebut kebudayaan Toraja.
    Tak mengherankan, bila di Tana Toraja banyak dijumpai rumah yang menyerupai perahu Tiongkok yang biasa disebut Tongkonan. Rumah adat ini dilengkapi dengan Lumbung tempat menyimpan padi sekaligus sebagai lambang kebesaran dan kesejahteraan masyarakat Toraja.
    Status kebangsawanan orang Toraja mudah dikenali, terutama saat mereka melakukan ritual pemakaman orang yang meninggal dunia. Berbeda dengan masyarakat biasa, para bangsawan suku Toraja jika meninggal dunia jenazahnya diawetkan terlebih dahulu sebelum dikuburkan. Ciri lainnya, jenazah bangsawan biasanya dimakamkan di atas tebing maupun gua-gua di wilayah Tana Toraja beserta harta benda kesukaan mereka.
    Saat prosesi pemakaman adat Toraja yang dinamakan upacara “Rambu Solo”. “Rambu Solo” adalah ritual yang sangat panjang dan melelahkan. Sebab kematian bukanlah akhir dari segala risalah hidup. Maka, suatu kewajiban bagi keluarga untuk merayakan pesta terakhir sebagai bentuk penghormatan kepada arwah yang akan menuju ke alam baka.
    Malam semakin larut. Ritual demi ritual pun telah dijalankan. Tiba  saatnya pihak keluarga melangsungkan ritual Ma`tundan atau membangunkan arwah. Seiring dimulainya Ma`tundan, suasana duka kembali tergurat di wajah sanak saudara dan orang-orang terdekat dari mendiang. Air mata pun jatuh bercucuran sebagai wujud orang yang mereka cintai bakal pergi selamanya.
    Bunyi-bunyian lesung dan bambu tersebut dilakukan bersamaan dengan prosesi pemindahan jasad mendiang dari rumah duka untuk disinggahkan ke rumah adat Tongkonan untuk disemayamkan selama satu malam.
    Maka, sanak saudara dan keluarga bahu-membahu mengangkat peti jenazah yang beratnya mencapai 100 kilogram untuk dinaikkan ke dalam rumah adat. Menurut adat Toraja prosesi ini melambangkan penyatuan kembali jenazah dengan para leluhurnya. Di dalam rumah adat, peti berisi jasad mendiang itu harus dijaga semalam suntuk oleh sanak keluarga.
    Hari pun berganti, kini saatnya melanjutkan prosesi pemindahan peti jenazah. Panas terik matahari pun tak mengurangi warga sekitar untuk menghormati yang meninggal. Mereka telah berkumpul di lumbung rumah adat untuk melanjutkan prosesi pemindahan peti jenazah dari rumah adat ke lumbung padi.
    Maka tarian penghormatan pun dilakukan. Kain merah dibentangkan sebagai lambang kebesaran suku Toraja. Sanak saudara dan warga bahu-membahu mengantarkan peti jenazah ke bawah lumbung. Ketika peti mati diturunkan, sorak-sorai bergema di antara penduduk. Warga mencoba mengatasi beban berat yang bertumpu di atas pundak mereka. Kain merah atau lamba-lamba ini dibentangkan sebagai simbol jalan yang harus dilalui jenazah.

    Akhirnya, sampailah peti jenazah di lumbung yang letaknya tepat di bawah rumah adat. Dalam keyakinan masyarakat Toraja, peletakan jasad ke dalam lumbung selama tiga malam itu menandakan jasad mendiang telah menuju pada fase kematian yang sebenarnya.