Senin, 09 Mei 2011

Ma' Nene'

Ma' Nene'
RITUAL adat khas Toraja yang paling terkenal adalah Rambu Sulo. Rambu Solo’ menjadi salah satu daya tarik wisatawan ke daerah itu. Selain Rambu Sulo’ ini, sebenarnya ada satu ritual adat yang langka di Toraja, yakni Ma’ Nene’. Upacara Ma’ Nene’ adalah salah satu kegiatan ritual adat di Toraja, khususnya di Baruppu, Rinding Allo Toraja Utara. Upacara Ma’ Nenek dimaksudkan untuk mengganti pakaian Almarhum, sebagai perwujudan dari rasa cinta keluarga yang masih hidup.
Biasanya, Ma’ Nene’ digelar tiap bulan Agustus. Saat Ma’ Nene’ berlangsung, peti-peti mati para leluhur, tokoh dan orang tua, dikeluarkan dari makam-makam dan liang batu dan diletakkan di arena upacara. Di sana, sanak keluarga dan para kerabat sudah berkumpul. Secara perlahan, mereka mengeluarkan jenazah (baik yang masih utuh maupun yang tinggal tulang-belulang) dan mengganti busana yang melekat di tubuh jenazah dengan yang baru.Mereka memperlakukan sang mayat seolah-olah masih hidup dan tetap menjadi bagian keluarga besar.
Ritual Ma’ Nene’ oleh masyarakat Baruppu dianggap sebagai wujud kecintaan mereka pada para leluhur, tokoh dan kerabat yang sudah meninggal dunia. Mereka tetap berharap, arwah leluhur menjaga mereka dari gangguan jahat, hama tanaman, juga kesialan hidup.
Dari mana asal muasal ritual Ma’ Nene’ di Baruppu? Kisah turun-temurun menyebutkan, pada zaman dahulu terdapatlah seorang pemburu binatang bernama Pong Rumasek. Saat sedang berburu di kawasan hutan pegunungan Balla, bukannya menemukan binatang hutan, ia malah menemukan jasad seseorang yang telah lama meninggal dunia. Mayat itu tergeletak di bawah pepohonan, telantar, tinggal tulang-belulang. Merasa kasihan, Pong Rumasek kemudian merawat mayat itu semampunya. Dibungkusnya tulang-belulang itu dengan baju yang dipakainya, lalu diletakkan di areal yang lapang dan layak. Setelah itu, Pong Rumasek melanjutkan perburuannya. Tak dinyana, semenjak kejadian itu, setiap kali Pong Rumasek berburu, ia selalu beroleh hasil yang besar. Binatang hutan seakan digiring ke dirinya. Bukan hanya itu, sesampainya di rumah, Pong Rumasek mendapati tanaman padi di sawahnya pun sudah menguning, bernas dan siap panen sebelum waktunya. Pong Rumasek menganggap, segenap peruntungan itu diperolehnya berkat welas asih yang ditunjukkannya ketika merawat mayat tak bernama yang ditemukannya saat berburu. Sejak itulah, Pong Rumasek dan masyarakat Baruppu memuliakan mayat para leluhur, tokoh dan kerabat dengan upacara Ma’ Nene’.
Dalam ritual Ma’ Nene’ juga ada aturan tak tertulis yang mengikat warga. Misalnya, jika seorang istri atau suami meninggal dunia, maka pasangan yang ditinggal mati tak boleh kawin lagi sebelum mengadakan Ma’ Nene’ untuknya. Ketika Ma’ Nene’ digelar, para perantau asal Baruppu yang bertebaran ke seantero negeri akan pulang kampung demi menghormati leluhurnya. Warga Baruppu percaya, jika Ma’ Nene’ tidak digelar maka leluhur juga akan luput menjaga mereka. Musibah akan melanda, penyakit akan menimpa warga, sawah dan kebun tak akan menghasilkan padi yang bernas dan tanaman yang subur.

Selasa, 03 Mei 2011

Dari Toraja ke Hollywood

TCN -- Mewarisi beragam kekayaan khasanah budaya merupakan salah satu keunggulan masyarakat Toraja di Provinsi Sulawesi Selatan. Warisan budaya seperti kesenian, tradisi, arsitektur bangunan, dan kerajinan daerah dari Toraja banyak yang tetap lestari sampai saat ini.
Kain tenun Toraja misalnya, adalah kerajinan tangan dari Toraja yang keberadaannya terus dilestarikan dan dikembangkan. Keistimewaan kain tenun Toraja adalah corak dan warnanya yang khas, berbeda dari kain tenun dari daerah lain di Indonesia. Selain itu, bahan kainnya kuat namun tetap halus dan indah.
Kerajinan tenun Toraja merupakan warisan budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi. Pengrajinnya banyak ditemui di Toraja Utara. Sampai sekarang para pengrajin tenun Toraja masih menggunakan alat tenun yang tradisional.
Alat tenun yang dipakai terbuat dari bahan kayu dan batang bambu. Selain pengrajin tenun, di Toraja Utara juga banyak terdapat pengrajin pemintal benang. Alat pintal benang yang digunakan juga masih tradisional terbuat dari bahan kayu.
Para pengrajin ini memintal benang yang menjadi bahan dasar pembuatan kain tenun. Sampai saat ini kerajinan kain ini masih menjadi mata pencaharian yang potensial bagi masyarakat Toraja.
Kain tenun Toraja yang sudah jadi dapat dibuat menjadi beragam kerajinan seperti baju, kain, tas, taplak meja, dan lain sebagainya. Seorang penenun asli dari Toraja Utara yaitu ibu Erni Iriani Pompadati mengatakan kepada Voice of Indonesia ada beragam jenis kain tenun Toraja.
"Saya bikin bahan-bahan ya, bahannya dari benang terus kita bikin kain. Nanti kita olah lagi ya. Bikin baju, kayak baju yang saya pakai ini. Baju, tas. Kain dari Toraja ini namanya tenun Toraja. Ini yang saya bikin pamiring, ada paruki, ada pabunga-bunga, ada paborong-borong, pokoknya berapa macam,"ungkapnya
Kain tenun Toraja dapat dikenali dari motif, warna dan tekstur kainnya. Motif yang sering dibuat adalah motif garis-garis vertikal, burung, dan bunga. Sedangkan warna yang digunakan biasanya warna-warna gelap seperti hitam, cokelat, biru tua, dan merah. Tekstur kainnya ada yang halus dan ada juga yang agak kasar.
Kain tenun Toraja dulu dipakai dalam pesta-pesta adat. Namun kini kain tenun ini dapat dipakai oleh siapa saja dan kapan saja. Dalam wawancara dengan Voice Of Indonesia Ibu Erni, penenun dari Toraja Utara, menjelaskan saat ini untuk lebih mengangkat keberadaan tenun Toraja, pemerintah daerah di berbagai daerah di Toraja telah menjadikan kain ini sebagai salah satu seragam kerja.
“Sekarang bahan ini sudah dipakai oleh pegawai dari Tanah Toraja, Toraja Utara. Udah pake kalo hari Sabtu ya, seragam. Kayak Batik,"ungkapnya
Kain tenun Toraja yang indah ini bisa menjadi buah tangan yang bernilai tinggi jika anda berkunjung ke Tanah Toraja. Pastinya anda ingin memiliki kain tenun yang keindahannya mempesona para pembeli dari Indonesia dan mancanegara.
Ya, ternyata penggemar dan pengguna tenun Toraja ada juga yang berasal dari luar Indonesia. Ibu Erni yang sejak kecil sudah menenun dan memproduksi tenun Toraja mengatakan kini ia banyak menerima pesanan kain dari luar negeri.